Bupati Danar: ‘Jamasan Pusaka’ tetap diadakan…

Wonogiri (Espos)–Bupati Wonogiri H Danar Rahmanto menegaskan ‘Kirab dan Jamasan Pusaka’ maupun acara tradisi budaya lainnya akan tetap diadakan pada bulan Sura/Muharam ini. Namun, beberapa bagian ritual dalam acara itu yang dinilai berbau syirik diminta untuk dihilangkan.
Tak hanya itu, meski mengizinkan, Danar menegaskan Pemkab tetap tidak akan memfasilitasinya sebagai bagian dari agenda resmi, tidak akan memberikan dukungan penuh, baik dari sisi anggaran maupun keterlibatan personel seperti sebelumnya. Acara jamasan itu juga diminta agar dikemas ulang dengan menghilangkan hal-hal yang dinilai berbau syirik seperti membakar kemenyan, memakai wangi-wangian atau ritual tertentu.
“Tolong jangan salah mengartikan, Pemkab tidak pernah melarang digelarnya acara seperti ‘Jamasan Pusaka’, ‘Larung Agung’ dan sebagainya. Kalau memang masyarakat masih menginginkan itu sebagai tradisi ya silakan tetap digelar. Tapi Pemkab tidak akan terlibat secara penuh,” tegas Danar, saat ditemui wartawan di depan kantornya, Jumat (26/11).
Pemkab, kata Danar, akan tetap memberi bantuan dana dalam APBD, jadi satu dalam pos promosi pariwisata di Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora). Sedangkan penggunaannya, apakah untuk ‘Jamasan Pusaka’, ‘Larung Agung’ dan sebagainya, pembagiannya akan diserahkan ke dinas terkait.
Diakui Danar, acara-acara seperti ‘Jamasan Pusaka’ dan ‘Larung Agung’, tetap perlu untuk melestarikan peninggalan budaya nenek moyang. Tapi ada beberapa hal dalam pengertian masyarakat mengenai acara itu yang perlu diluruskan.
“Saya tidak menentang acara jamasan itu, wong saya sendiri juga punya koleksi keris yang rajin saya jamasi. Tapi, pengertian jamasan pusaka itu perlu diluruskan. Masyarakat perlu diberi pengertian bahwa menjamasi itu berarti membersihkan dan merawat agar tidak mudah rusak. Bukan karena kalau tidak dijamasi nanti penunggunya marah, atau pusaka itu dijamasi agar lebih ampuh. Pengertian seperti itulah yang perlu diluruskan,” jelas Danar.
Sebagaimana diinformasikan, wacana penghapusan acara tradisi ‘Jamasan Pusaka’ dari agenda Pemkab Wonogiri telah memicu pro dan kontra. Pihak yang pro menganggap acara itu mengajarkan kesyirikan dan memboroskan anggaran. Sedangkan pihak yang kontra, menginginkan acara itu tetap diadakan karena dinilai sudah menjadi ikon dan daya tarik wisata.
shs
Editor: Arif Fajar Setiadi | Dalam : wonogiri









betul pak bupati saya dukung, bapak termasuk pejabat yang lurus aqidahnya. Jarang ada pejabat di zaman sekarang yang seperti bapak . Mudah2an Allah SWT senantiasa merahmati bapak.”Innallaha layaghfiru ayusrokabihi…..” Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik …”
Bapak lagi arep menyak nyambut gawe wae wis akeh sing komen soal jamasan pusoko sasi suro wulan ngarepp iku, piye maneh nek ngadepi hal-hal sing luwih berat koyo to kemiskinan nang kuto wonogiri sing tercinta iki…..
Puji Tuhan…akhirnya ada pemimpin yang tegas mengambil tindakan dan tau membedakan mana budaya, mana kegiatan syirik atau ritual diluar keagamaan. saya setuju… lebih baik dananya untuk pelestarian budaya yang lebih baik lagi dan yang dapat membangun, contohnya seperti pelestarian wayang orang atau candi2. hal2 ini lebih dapat menempatkan Indonesia di peta internasional sebagai negara yang menghargai peninggalan nenek moyangnya dan kaya akan budaya. bukan bangsa yang kolot dan supernatural melulu. Tuhan memberkati Wonogiri. Tuhan memberkati Indonesia.
bupati gagap………………….. esok dele sore tempe sesok wes bosok……….
Mas Banteng, Bupati H. Danar tidak akan mendakan ritual -ritual jamasan pusaka, persembahan ke Ny.roro kidul, maupun sedakah untuk bumi,tetapi kalau masyarakat mau mengadakan Pemkab tidak melarang, faham ?
Pak Bupati…….sedikit2 harus berani membenahi hal hal yang berbau bau syirik. Ingat…jabatan tidak hanya dipertanggungjawabkan didunia saja……diakhirat nanti akan diminta juga akan kepemimpinan bapak. Semoga Allah memberikan kelapangan jalan buat pak H Danar untuk bisa memimpin seluruh warga Wonogiri…..menuju ke kesejahteraan lahir bathin……
Sudah saatnya Wonogiri berubah…Acara2 yang memboroskan anggaran apa lagi membebani SKPD dgn segala macam umbrukan harus dihilangkan…klopun mau mengadakan acara budaya, biar dilakukan oleh masyarakat yang menginginkan kerjasama dgn EO.
ini baru benar…yg sirik dihilangkan,,tapi budaya jalan teruss….BRAVO pak Bupati DANAR….
nek bingung umum-umum wae , bupati anyar . . !
tapi pikiran bupati tak anggep apik , singpenting ora syirik . . . jalan terus !
ikon budaya lan sejarah kudu dipertahanke.
Pas apa yang dikemukakan Pak Bupati, hal hal seperti itu tetap diadakan , dalam arti bertujuan untuk promosi pariwisata . Dan ini sudah merupakan salah satu upaya peningkatan pembangunan dibidang sosial budaya daerah WONOGIRI YANG KITA CINTAI .
Nuwun, Selamat bertugas Pak Bupati dan jajarannya.
Syirik dan musyrik itu tergantung niatnya, bedakan antara seni dan budaya dengan syirik, lestarikan budaya sebagai aset bangsa.
Btul pak,lestarikan budaya jawa.wong jawa aj lali jawane.